
geboren in een mooi stadje in de bergen
DAAN RUIS
De wereld is een schouwtoneel,
elk speelt zijn rol en krijgt zijn deel
VOORWORD
En hij is mooi en straalt met grote pracht—van U, Allerhoogste, draagt hij het teken.

To sit between two stools
in the ashes.
Berada di antara dua kubu keluarga—menjadi anak satu-satunya, pula—sungguh membebani pikiran. Daan Ruis, yang sejak lahir ada di posisi itu; merasakan bagaimana ego kedua orang tuanya berseteru, tidak lain tidak bukan adalah masalah kepercayaan yang dahulu tidak pernah menjadi sorotan utama dalam diskusi rumah tangga mereka. Namun semuanya berubah, tatkala kakek dari pihak ibunya (yang merupakan sosok yang dituakan pada agama mayoritas di negara ini) meninggalkan wasiat berupa pembagian harta warisan dengan jumlah banyak sekali. Kendati sang ibu berhak atas hal itu, neneknya tidak mau memberikan begitu saja—melainkan ia ingin ibunda Daan beserta keluarganya menjadi seorang mualaf.Daan lahir pada tahun 1997 di Sipirok, sebuah wilayah di Tapanuli bagian selatan, dengan nama lengkap Halomoan Daaniël Jaap Ruis-Dalimunthe. Ia lahir dengan napas Protestan, selama tinggal di Angkola pula ia diajarkan dasar-dasar teologi kekristenan oleh sang ayah—Pangondian Sabda Jozef Ruis-Dalimunthe yang merupakan seorang pendeta. Sementara ibunya, Malahayati, merupakan seorang wanita asal suku Betawi keturunan seorang pemuka agama di sana.Keluarga ayah Daan—Jozef Ruis, merupakan keturunan dari seorang ahli teologi sekaligus botani dari Belanda yang menetap di Indonesia sejak abad ke-19. Itu sebabnya, Daan memiliki fitur wajah orang Belanda yang cukup kental. Sejak kecil pula ayahnya mengajarkan bahasa Belanda dan Batak untuk memudahkan dirinya dalam bergaul.Daan kecil seringkali diikutsertakan dalam kegiatan gereja, seperti menjadi pelayan Kristus dan bergabung dalam paduan suara gereja. Di sekolah, Daan dikenal sebagai murid yang memiliki banyak teman, pintar pada pelajaran matematika, dan juga biologi.Tak disangka, prahara rumah tangga mulai menghinggapi hubungan orang tuanya saat ia menginjak usia tiga belas tahun. Daan acapkali bersembunyi ketika ayah dan ibunya mulai membahas keyakinan mereka masing-masing dan masa depan dirinya. Setelah beberapa kali curi-curi dengar, rupanya ibunda Daan sempat bersikukuh untuk kembali ke naungan keluarganya di Jakarta dan membawa Daan ikut serta, tetapi sang ayah tidak mengizinkan. Jozef tidak setuju apabila anak mereka satu-satunya harus diperebutkan dan iman mereka dipertaruhkan sebab warisan yang tidak bisa dimiliki oleh istrinya.Hingga puncaknya, Daan mendapatkan telepon dari sang nenek yang membujuknya untuk datang ke Jakarta. Neneknya juga bercerita kalau kakek Daan ingin melihat cucunya di saat-saat terakhir, yang mana membuat Daan terenyuh.Dia mungkin hampir jarang sekali bertemu keluarga dari pihak ibunya karena sentimen kepercayaan, tetapi Daan juga tidak mau menjadi cucu yang durhaka. Paling tidak, dia ingin menemani sang kakek di saat terakhir. Akhirnya, lepas beberapa minggu setelah panggilan telepon itu, Daan bertolak ke ibukota.Pada awalnya, Daan hijrah ke Jakarta untuk memenuhi keinginan sang nenek yang ingin dirinya tinggal di sana. Daan pikir, di Jakarta ia hanya akan sekadar menetap, sembari melanjutkan pendidikan menengah atas hingga perguruan tinggi karena selama ini hidupnya dihabiskan di Tanah Angkola. Ternyata, setelah tiba di ibukota, ia malah dijejali budaya keislaman dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari berpuasa, bersuci, dan hal-hal fundamental lainnya.Hal itu membuatnya semakin bertanya-tanya, apakah dirinya sebagai manusia tidak punya hak untuk memiliki jati dirinya sendiri? Sejak lahir, ia sudah dididik dengan doktrin agama tertentu, hingga umur dewasa ia didoktrin dengan agama lainnya—bukan karena keinginannya sendiri, melainkan tumpukan ego orang tuanya terkait harta. Jalan mana yang semestinya ia jejaki?
de lijst van zijn identiteit
| Kelahiran | Halomoan Daaniël Jaap Ruis-Dalimunthe |
| Baptist | Halomoan Daniel Dalimunthe |
| Resmi | Halomoan Daan Ruis Dalimunthe |
| Alias | Daan (Dan), Daniel, Daani |
| Registrar | Daaniël Jaap Ruijs van Overijssel |
persoonlijke informatie
| Lahir | Sipirok, 17 Juli 1997 |
| Pekerjaan | Penyanyi kafe |
| Kepribadian | Ambivert-NFJ |
| Orientasi seksual | Panromantik-Homoseksual |
| Gender dan peran | Maskulin, versatile-bottom |
| Kepercayaan | Belum menentukan |
trivia over hem
Saat tinggal di Jakarta ia punya peliharaan seekor kucing putih, namanya Ucok.
Tidak bisa makan permen atau manisan berlebihan karena kerongkongannya sensitif terhadap gula sintetis.
Tidak suka rasa daging babi, hampir tidak pernah mengonsumsi makanan yang mengandung hewan tersebut.
Roti dan sup krim adalah menu wajib saat sarapan.
Selalu siap sedia air mineral di tasnya saat bepergian.
HET MEEST OP ZIJN
Hier is het deel van de naaste, onder de mensen die een rol spelen in zijn leven.

... his first love

... the one who betrayed him

... his support system


